Minggu, 13 Oktober 2013

Cari duit itu susah

Semuanya pasti pernah dengar kata kata diatas, tapi gak semua pernah merasakan.
Tapi setidaknya sekarang angkatan G11 Mekatronika PCR udah ngerasain, right? :)

Sebelumnya memang udah tau, udah selalu dengar, cari duit itu susah, apalagi di zaman sekarang yang menuntut persaingan untuk mendapat sesuap nasi. Tapi untuk merasakan gimana susahnya ngumpulin lembaran rupiah sekedar buat makan sama kehidupan sehari hari, ya baru sekarang ini, walaupun masih simulasinya alias KP.

Biasanya tinggal minta dan uang buat jajan udah disiapkan sama orangtua, gak perlu kerja, gak perlu keringatan, gak perlu juga stres mikirin uang lain lainnya yang perlu dibayar. Satu satunya beban cuma belajar, dan biasanya sebagian besar anak (termasuk aku) merasa itu udah beban terberat seumur hidup. Disuruh nyuci piring aja sering ngeles dengan alasan lagi buat tugas (yang aslinya tugas bisa dikerjakan dalam waktu sejam jadi 5 jam karena diselingi fesbukan,twitteran,dll). Padahal nantinya di kampus juga ngerjain itu tugas, nyontek temen, alasan gak ngerti.

Nyesal? Iya.
Merasa bersalah sama orangtua? he eh :'(
Capek? BANGET.

Biasanya pulang kampus langsung tidur, makanan udah ada, kalau gaada tinggal beli. Pagi pagi berangkat kampus lauk buat makan udah ada, susu udah disediain, malah kadang gak diminum dengan alasan gak sempat padahal emang dasarnya telat bangun. Sekarang? Semua siapin sendiri, kalau gak masak ya gak makan. Kalau malas beres beres ya tidur aja di kamar berantakan kayak kandang kambing. Nyampe rumah sepi, gak ada yang bisa dijahilin, gak ada adek yang bisa disuruh suruh ambil air minum yang sebenernya jaraknya cuma semeter dari aku.

Well.
Semua emang terasa begitu berharga kalau kita udah kehilangan. Semua terasa begitu dekat saat udah jauh.

Tenyata, ini rasanya banting tulang cari duit. Kalau diitung2 gaji pun masih gede jajan yang dikasih orangtua. Kalau jajan abis tinggal minta, gak dikasih setidaknya di rumah masih bisa makan dengan lauk pauk lengkap. Lah kalau sekarang duit habis karena boros? PUASA.

Bersyukurlah kita yang masih punya orangtua.
Bersyukur masih ada tempat berlindung dan kehidupan yang layak.
Bersyukur masih bisa kuliah dengan biaya yang kalau disuruh cari sendiri mungkin gak akan terbayar.
Bersyukur, kita, termasuk kalian yang baca ini, masih punya orangtua baik yang banting tulang untuk beliin kita laptop sehingga aku masih bisa nulis blog ini, dan kalian masih bisa baca blog aku :)




Selasa, 08 Oktober 2013

Kerja Praktek at PT. Yokogawa Indonesia Week 1


Semester 5 yang dijadwalkan full untuk melaksanakan Kerja Praktek (KP) bagi mahasiswa Prodi Mekatronika Politeknik Caltex Riau akhirnya datang juga. Dengan jadwal minimal 4 bulan dan maksimal 6 bulan, kami mulai melaksanakan KP di instansi-instansi perusahaan untuk menerapkan ilmu yang sudah kami dapat selama ini.

Nah, kali ini aku akan membagi pengalaman tentang minggu pertama KP di PT. Yokogawa Indonesia, suka duka dan pengalaman baru yang kami dapat disini :D
Jauh hari sebelum jadwal KP, aku beserta 3 orang temanku sudah mengirimkan surat permohonan KP kepada HRD Yokogawa, lengkap dengan proposal dan CV serta foto. Setelah menunggu kira kira sebulan dan dengan usaha keras menelpon berulang kali ke Yokogawa, pihak perusahaan akhirnya memutuskan untuk menerima 2 orang saja dari 4 orang yang kami ajukan. Yah, dengan sangat terpaksa 2 orang mengalah dan mencari perusahaan lain.

Dalam surat penerimaan yang dikirim via email oleh Ibu Utami, HRD Yokogawa, kami diharuskan datang 1 hari sebelum jadwal KP efektif. Itu berarti pada tanggal 30 September kami sudah harus menghadap ke kantor. Jadilah aku dan Ary, teman sesama KP berangkat tanggal 28 September 2013 menuju Jakarta. Kami tidak kesulitan mencari kost karena sebelumnya sudah di booking dengan bantuan senior yang sudah lebih dulu bekerja disana (thanks honey :D). Kost yang aku tempati terletak di daerah Pancoran Barat, sebuah pemukiman yang padat dan memang banyak terdapat tempat kost di daerah ini. Penghuni kost an rata rata pegawai maupun mahasiswa yang kantor atau kampusnya berada di dekitar Gatot Subroto atau Pancoran. 



Pagi hari tanggal 30 September 2013, kami berangkat menuju Wisma Aldiron (nama gedung kantor Yokogawa) ditemani salah seorang senior –thanks to bang Nofel- karena ada jalan alternatif untuk sampai ke kantor. Eh, wisma disini bukan seperti wisma tempat nginap itu ya :D gedung gedung perkantoran di Jakarta biasa disebut wisma, menara, dll. Kami melewati jalan pintas melalui asrama AURI (kalau gak salah) karena gedung Yokogawa sendiri dulunya adalah Markas Besar AURI.

Sampai di kantor, kami diantar ke resepsionis dan menyampaikan ke petugas resepsionis kalau kami mahasiswa dari Politeknik Caltex Riau yang diminta datang untuk registrasi KP pada hari itu. Kami diminta menunggu sebentar di lobby, sampai kemudian Bu Utami datang dan memanggil kami. Kami dibawa ke ruangan di dalam office untuk diberi pengarahan mengenai peraturan dan bagaimana prosedur KP di Yokogawa. Kami juga diberi badge sebagai tanda pengenal bahwa kami mahasiswa KP disini.



Setelah Bu Utami memberi pengarahan, kami diserahkan ke Mas Kiki, salah satu staff HRD untuk mendaftarkan sidik jari kami di finger print yang ada di semua pintu masuk ruangan di kantor. Ini nantinya berfungsi untuk absensi kami setiap hari serta hak akses untuk masuk ke ruangan di Yokogawa. Karena tidak semua orang bisa masuk ke office Yokogawa, hanya yang sidik jarinya terdaftar saja yang bisa masuk. Di kampus juga ada finger print seperti ini, hanya saja dipakai oleh dosen dan staff, tidak berlaku untuk mahasiswa. Setelah sidik jadi kami terdaftar dan dicoba untuk absen, kami pun dipersilahkan untuk pulang.

Besok paginya jam 7 kami sudah berangkat ke kantor, dan sampai di kantor dengan keadaan kantor yang masih sepi. Wah, kecepetan datang nih, pikirku (yang akhirnya seterusnya di hari lain kami berangkat jam setengah 8 lewat dari kost). Kami menunggu lagi di lobby, kemudian Bu Febri datang, beliau yang membimbing pegawai baru serta mahasiswa training Yokogawa ini, sehingga beliau juga yang akan membimbing kami selama KP disini. Kemudian kami dibawa ke Training Center, aku dikenalkan dengan beberapa karyawan baru yang sedang berada di Training Center. Untuk selanjutnya aku ditempatkan di bagian DCS, membantu mbak Tasya –salah satu karyawan baru- untuk menyelesaikan proyek PT. DSS. Sedangkan Ary dibawa Bu Febri ke workshop untuk menemui Pak Yoyok. Di Training Center aku diajarkan mengedit grafik proyek PT. DSS, dimana tadinya memakai Centum CS3000 yang kemudian dimigrasi ke CentumVP. Aku yang masih awam, apalagi di kampus gak pernah mempelajari tentang Centum, jadi sedikit bingung. Basic dari Mekatronika yang terbiasa praktek dan “ngulik” benda secara langsung jelas bertolak belakang dengan bagian ini. Disini selama 2 hari sampai hari ke 2 KP aku duduk di depan laptop mengerjakan grafik yang bisa sampai ratusan. Setelah sharing dengan Ary, dia di workshop langsung belajar kalibrasi alat, dan diberi tugas mengkalibrasi recorder secara langsung. Yah, istilahnya kerjaannya lebih praktek lah.

Akhirnya hari ke 3 KP, setelah tanya sana sini dan dimotivasi pacar yang dulunya bernasib sama :p, aku memberanikan diri menemui Bu Febri. Setelah sebelumnya menelpon Bu Febri dan bilang ada yang ingin didiskusikan tentang KP, Bu Febri menyuruhku naik ke office atas. Aku pun keatas menuju meja Bu Febri. Bu Febri yang ramah menyuruh duduk dan menanyakan ada apa? Aku menyampaikan tentang keinginanku untuk ditempatkan di tempat yang bekerja langsung, atau yang bisa praktek langsung. Karena selain basic kami Mekatronika yang memliki jiwa lapangan (cieee),  pada proposal KP juga bidang yang ingin aku kaji adalah Field Engineering dan Instrument. Setelah menjelaskan semua maksudku, Bu Febri bilang “Saya dari awal gak mau masukin kamu ke workshop karena kerja di workshop itu bukan sekedar bermain main dengan alat kalibrasi. Ada saatnya kamu harus ke site, dan itu berat. Apalagi kalau cewek seringnya sakitlah,inilah. Apa kamu siap?” aku dengan mantap menjawab siap, dan mengutarakan untuk soal fisik, insya allah kami sudah terlatih sejak dari kampus (thanks to all Mechatronic’s lecturer :D didikan keras baik mental maupun fisik yang diterapkan di kampus selama ini sangat terasa gunanya di dunia kerja). 

Bu Febri pun menyetujui permintaan ini, dan meminta untuk menunggu karena beliau harus mencarikan pembimbing lain untukku. Aku pun kembali ke Training Center. Tapi tak lama kemudian, Bu Febri menelpon dan menyuruhku kembali keatas. Sampai diatas aku dikenalkan dengan Pak Adit, Specialist Analyzer Yokogawa. Pak Adit menanyakan apa aku siap dibawa ke lapangan, takut ketinggian gak?ada penyakit gak? Yah alhamdulillah aku gak punya fobia ketinggian dan menyatakan sanggup dibawa ke lapangan.
Ternyata, Pak Adit juga sering bertugas dengan bang Ari –pacarku :D yang udah setahun di Yokogawa-, bahkan baru sehari yang lalu pulang dari Dumai menyelesaikan proyek di Pertamina dengan bang Ari.  Wah pas nih,haha. Kami nantinya bisa sharing tentang proyek analyzer dan ilmu ilmu tentang analyzer lainnya. Hari itu sebenarnya Pak Adit ada proyek pemasangan Oxygen Analyzer di Tangerang, tapi beliau memastikan dulu apakah ada diberi transportasi dari kantor jika aku ingin ikut. Karena tempat tinggal beliau di Tangerang, jadi selesai proyek nantinya gak bisa mengantarkan kembali ke Jakarta. Dan alhamdulillah, ada driver yang nanti bisa menjemput untuk kembali ke Jakarta.

Siang itu juga jam 12.30 kami berangkat ke PT. Tifico Fiber Indonesia, Tangerang. Ini keuntungannya KP di Yokogawa, kita bukan hanya diberi training secara teori, tapi juga diterjunkan ke lapangan dan berhadapan langsung dengan costumer yang memakai alat dari Yokogawa. Costumer kali ini adalah PT. Tifico yang memproduksi kapas dan benang fiber. Tifico ini menggunakan Oxygen Analyzer dari Yokogawa pada boiler boiler di pabrik mereka. Oxygen Analyzer ini fungsinya untuk memantau kadar pollutan yang dilepaskan ke udara dan mengefisienkan pembakaran sehingga tidak terjadi polusi udara. Karena menurut undang undang dan berdasarkan peraturan CEMS (Continous Emission Monitoring System) jika kadar pollutan yang dikeluarkan oleh suatu pabrik mengganggu masyarakat dan menyebabkan polusi, maka pabrik tersebut dapat terancam berhenti beroperasi.

Penginstallan alat selesai sekitar jam 4 sore, setelah laporan selesai dan ditandatangani oleh costumer, maka pekerjaan hari itu selesai. Well, karena Pak Adit langsung pulang ke rumahnya yang gak terlalu jauh dari pabrik Tifico, maka aku dijemput Pak Mahfud, salah satu driver kantor. Aku diantarkan pulang sampai ke depan jalan masuk kost. Dan sampai di kost sekitar jam 7 malam. Capek? Jelas. Tapi ini pengalaman berharga bisa langsung ikut andil dalam proyek perusahaan dalam minggu pertama KP. Semoga ke depannya makin banyak ilmu yang bisa didapat di perusahaan ini, amiin.



Minggu, 22 September 2013

Saat kesabaran dan keikhlasan diuji

Pernah gak ngerasa bahagia dan sedih sekaligus dalam satu waktu? Pernah gak ngerasa antara semangat dan  gak rela sekaligus? Saat dimana satu sisi pengen loncat loncat kegirangan, di sisi lain pengen nangis meraung raung. Saat dimana pengen menjelajah dunia baru tapi gak mau melepas kondisi yang udah ada. Saat dimana harus meninggalkan yang penting demi sesuatu yang juga penting.

Bingung? Iya, sama. aku yang nulis juga bingung.


Kata orang, ini resiko LDR. Ada juga yang bilang belum waktu yang tepat. Segelintir yang lain berpendapat ini menguji kesabaran dan kesetiaan. Semuanya benar, gak ada yang salah. Tapi semua hal itu memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Semuanya memang kelihatan mudah, kalau DILIHAT aja. Kalau udah dijalani, beratnya beban baru terasa bertumpuk tumpuk.

Beberapa bulan yang lalu, senang bukan kepalang saat membuka email dan mendapatkan email dengan subject "Surat Penerimaan Magang di PT. Yokogawa Indonesia". Langsung print, kasih kabar ke teman yang juga diterima, besoknya dengan perasaan bangga dan plong luar biasa ngasih surat penerimaan itu ke koordinator KP. Segala rencana udah disusun rapi di kepala dari A sampai Z. Semua beban LDR rasanya menguap gak berbekas karena selama 4 bulan disana bisa menyelesaikan Kerja Praktek sekaligus "menyusul" pacar disana.

Tapi gak lama berselang, 2 bulan sebelum keberangkatan ke Jakarta, pacar diberi challenge untuk pindah tugas ke Pekanbaru, yang nantinya kalau kinerjanya bagus maka akan seterusnya dipindahkan kesini.

Sedih? IYALAH. Udah bela belain mau nyusulin ke Jakarta eh si akang ditugasin kesini T.T
Senang? Senangnya pending sampai selesai KP, berarti 4 bulan lagi :'(

Sempat down, nangis berhari hari meratapi nasib kok sebegini kejamnya :(( sempat nyalahin keadaan, nyalahin pacar, nyalahin kucing yang lewat, nyalahin atasannya pacar yang nugasin buat kesini. Berhari hari dihabiskan cuma buat mikirin semua ini. Kok bisa sih kayak gini, salahku apa ya sampai dikasih cobaan yang gak berhenti berhenti.


Setelah puas nangis, nyalahin sana sini, dan cerita ke beberapa teman dekat, barulah pencerahan itu muncul. Dari hasil diskusi dengan seorang senior yang juga rekan kerja pacar, bakal lebih banyak baiknya pacar ditugaskan ke kantor cabang di Pekanbaru. Selain salary yang lebih besar, bisa nabung karena gak ada biaya kost dan makan, dikasih transportasi sendiri, ini juga batu loncatan untuk karir ke depannya. Kalau nantinya pacar seterusnya ditetapkan di Pekanbaru, lebih bagus kan dibanding cuma ketemu 4 bulan di Jakarta dan selanjutnya LDR lagi? Berulang kali masukan datang, nyemangatin, membuka mata untuk mellihat jauh ke depan bukan hanya memikirkan kesenangan sementara.

Memang perlu waktu lagi untuk menyerap dan mencerna semua masukan itu ke dalam otak, dan otak juga butuh proses untuk memikirkan semuanya sampai membuat hati lebih tenang. Tapi sekarang insya allah ilmu ikhlas itu udah bisa aku terapkan dalam keadaan yang sulit ini. Yang tadinya gak berhenti marah dan ngambek ke pacar, sekarang udah bisa nyemangatin dia buat kerja di kantor cabang. Yang tadinya pasang muka masam kalau ada teman yang nanya "eh bang ari pindah ke Pekanbaru ya?" sekarang udah bisa senyum sambil jawab "Iya nih, dapat challenge yang lebih gede disini".

Dan, percaya gak percaya, kalau ikhlas itu udah diterapkan di hati semua yang dijalani bisa lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Mulai dari karir pacar yang naik sejak menerima challenge ini, dipercaya sama atasan untuk menyelesaikan berbagai proyek kesana kemari ( Alhamdulillaah ), waktu pertemuan yang masih bisa diatur sebelum keberangkatan ke Jakarta, dan segala macam hal lainnya. Sekarang hanya terus menguatkan hati kalau "Rencana Allah lebih baik" dan berharap semuanya akan lebih baik ke depannya o:)

Ah, dan satu lagi. Ada hadist yang bilang kalau Allah gak akan menguji hambanya diluar kemampuan hambanya tersebut. Nah, berarti aku orang kuat yang Allah percaya bisa memikul cobaan berat yang gak semua orang lain bisa jalankan :D


Jalani. And believe that Allah have a better plan than ours :)

Minggu, 01 September 2013

Apa kabar, proposal?

Apa yang terpikir kalau membaca judul diatas?
A. Pusing
B. Mual
C. Kejang kejang
D. Semua benar

        Udah hampir sebulan ini kata PROPOSAL dan TA menjadi kata kata ajaib buat mahasiswa Mekatronika G11 (mungkin prodi lain merasakan hal yang sama, cuma kita gatau :p). Setiap pengucapan 2 kata diatas pasti membuat yang lagi ketawa langsung diam, yang lagi makan keselek, yang lagi galau makin galau.
        

         Kata kata "semangaat!" "kalau gak sidang sekarang ntar nambah semester" "kita masuk sama sama keluar sama sama" udah muncul hampir setiap waktu baik secara lisan maupun tulisan di berbagai media sosial teman teman sekalian. Ada yang menganggap itu sebagai kata kata penyemangat, ada juga yang malah jadi stres berkepanjangan. Jadi, sebenarnya apa yang harus kita lakukan dalam kondisi sekarang ini? 

       Memang benar, dan memang lebih baik kalau kita bisa sidang sebelum berangkat Kerja Praktek. Karena nanti yang namanya KP itu kecil kemungkinan TA ini bisa tersentuh (berdasarkan survei dari beberapa sumber -red). Tapi di kondisi kita di semester 4 yang jadwal padat, nilai kacau balau, ditambah masih ada revisi, kompen, ujian yang belum selesai atau bahkan mungkin udah ada yang ditetapkan CO sama dosen. Dengan banyaknya hal yang belum terselesaikan, apa bisa kita maju sidang 2 minggu lagi?

     THAT'S YOUR CHOICE FRIENDS :)

      Karena tingkat dan cara penyelesaian masalah dari masing masing orang itu berbeda, kan? Ada yang bisa semangat dan tugasnya selesai kalau udah di marah marahin plus ditendang (konotasi). Tapi ada juga yang gak bisa digituin. Gak semua orang loh bisa semangat dengan terus terusan dibombardir pertanyaan : "gimana proposal?" "kapan mau maju sidang?" "ah,nambah semester lah kau ni" "mau ketinggalan?".
yang ada malah merekanya makin down, stres, jadinya otak buntu buat ngerjain apa apa. Gak nutup kemungkinan kalau gak sidang sekarang, tapi TA nya jugak selesai tepat waktu (berdasarkan pengalaman salah seorang senior). Dan bukan gak mungkin juga yang udah sidang proposal sekarang pas ngerjain TA nya malas malasan, dan malah ketinggalan. Right? :)

     So, that's in our hand. Bagaimana cara kita menyelesaikan masalah ini dengan cara terbaik yang bisa kita lakukan.


Sabtu, 17 Agustus 2013

hello!

new blog! (again). setelah sebelumnya udah buat beberapa blog yang akhirnya menghilang begitu saja, entah karena lupa password atau gak minat buka lagi, dibuatlah blog ini :D 

well, mungkin ini blog random yang nantinya bisa berisi informasi, curhatan galau (halah), berbagi pengalaman, dan sebagainya. so, check it out! :D